Total Tayangan Halaman

Senin, 15 Maret 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.

Pembelajaran bahasa asing (Bahasa Inggris) untuk anak sekolah dasar di luar negeri sudah dimulai tahun 60-an, mencapai puncak pada tahuan 70-an dan sempat surut. Namun sekarang sejak tahun 90-an telah terjadi ledakan anak belajar bahasa asing lebih dini. Bahasa asing di SD sebenarnya untuk memperkenalkan kepada siswa bahwa ada bahasa lain selain bahasa ibu. Di Indonesia dengan adanya kebijakan di muka, seyogyanya bahasa Inggris diperkenalkan melalui kegiatan yang sesuai dengan kegiatan di dunia anak. Misalnya, belajar kosakata dan kalimat sederhana tentang apa yang ada di sekitarnya atau belajar sambil menggambar, menyanyi, bermain, dan berceritera. Bagaimana kenyataan di lapangan sekarang? Anak-anak SD ditugasi untuk menerjemahkan kalimat-kalimat yang sulit, mencatat tata bahasa dengan istilah yang tidak dimengerti oleh siswa, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang sering tidak jelas perintahnya sehingga ada jawaban yang rancu.

Pengajaran bahasa Inggris di Indonesia sudah dimulai pada saat setelah masa Kemerdekaan Indonesia. Berbagai kurikulum dan metode telah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai bahasa Inggris. Walaupun demikian hasilnya masih belum dirasakan maksimal dalam membuat siswa dapat berkomunikasi dengan baik melalui bahasa tersebut. Berbagai masalah dan faktor yang melatar belakangi mengapa hasil yang dicapai belum sesuai yang diharapkan.

Salah satu cara pemerintah dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris adalah memperkenalkan bahasa Inggris lebih dini, yaitu dimulai dari Sekolah dasar. Program ini dilaksanakan berdasarkan pada kurikulum 1994 untuk Sekolah Dasar. Secara resmi kebijakan tentang memasukkan pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sesuai dengan kebijakan Depdikbud RI No. 0487/1992, Bab VIII, yang menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kemudian, kebijakan ini disusul oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal SD, dan dapat dimulai pada kelas 4 SD.

Sekolah mempunyai kewenangan mengenai mata pelajaran bahasa Inggris dimasukkan sebagai salah satu muatan lokal yang diajarkan di sekolah dasar berdasarkan pertimbangan dan kebutuhan situasi dan kondisi baik dari orang tua maupun lingkungan masyarakat itu sendiri. Kebijakan ini membawa dampak yang positif baik bagi masyarakat maupun sekolah yang menyelenggarakan program tersebut. Selama kurun waktu beberapa tahun ini, adanya kecendrungan yang meningkat sekolah melaksanakan program pengajaran bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar.

Dalam perkembangannya program ini menghadapi masalah-masalah baik dari sekolah maupun dari guru. Salah satu kendala yang dihadapi adalah tidak tersedianya sillabus khusus mata pelajaran bahasa Inggris. Walaupun sebagai mata pelajaran muatan lokal akan tetapi bahasa Inggris haruslah tetap mempunyai sillabus tersendiri. Pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan nasional bidang dasar dan menengah tidak menyediakan sillabus mata pelajaran bahasa Inggris. Tugas tersebut diserahkan sepenuhnya kepada masing – masing daerah propinsi untuk membuat sillabus tersendiri sesuai dengan situasi dan kondisi di daerah tersebut. Masalah yang lain adalah metode dan strategi pengajaran oleh guru yang tidak sesuai dengan perkembangan siswa.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini kita akan melihat selain kendala yang dihadapi diatas, masalah-masalah apa lagi yang muncul dihadapi oleh guru selama proses pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar dan bagaimana mereka melaksanakan pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar.Bahasa asing, khususnya bahasa bahasa mayor di Eropa (mayor dalam arti pencakap/penggunanya banyak dan berbagai kajian ilmiah, sastra, novel, film dan bentuk kesenian lain menggunakan bahasa tersebut sebagai pengantar) mengenal bentuk perubahan kata kerja, adverbia, ajektifa atau bahkan kata kerja bantu sebagai akibat dari “kapan” sebuah kalimat mewakili sebuah kejadian dan kemudian diucapkan. Intinya bahasa tersebut mensyaratkan “time frame” yang membutuhkan penalaran logis obyektif tentang sebuah moment. Sebuah pertanyaan yang mendasar: rata rata anak kelas 1 SD bahkan mungkin kelas 2 apakah dalam fase umur mereka, mereka mampu untuk melakukan penalaran waktu seperti: kemarin malam, 2 hari lalu, sekarang sedang, sekarang karena kebiasaan, besok sedang, besok akan dsb? Kalaupun ada anak yang sudah punya kemampuan melakukan penalaran waktu dengan baik mungkin memang kecerdasannya di atas rata rata atau mempunyai talenta luar biasa dalam bidang bahasa. Kebanyakan usia anak-anak tersebut bahkan masih belum mampu menalar time frame dalam bahasa ibunya. Contoh gampang : kapan kamu ke rumah nenek? Mungkin dijawab : kemarin, padahal actual pergi ke rumah nenek adalah kemarin lusa, atau bahkan 10 hari yang lalu.
B. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui apa tujuan diberikan pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak/murid Sekolah Dasar, apa metode yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris, dan apa media yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris berlangsung.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tujuan Diberikan Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak/Sekolah Dasar
Mengapa bahasa Inggris perlu diajarkan anak-anak mulai kelas 1 SD, bahkan di beberapa TK sudah ada yang memberikan materi bahasa Inggris? Kebanyakan orang tadinya beranggapan untuk memenuhi tuntutan globalisasi, modernisasi dan sasi-sasi yang lain, termasuk juga egoisasi orang tua mungkin. Tuntutan zaman yang seperti apa? Globalisasi yang seperti apa? Nah, ini yang sulit rumit dijawab karena memang tidak ada kerangka panduan yang jelas. Jelas saja tidak, apalagi visible. Sungguh sayang bahwa tujuan baik mengenalkan bahasa asing tidak disertai dengan kerangka kurikulum yang jelas sesuai dengan kriteria usia anak-anak. Ada sekolah yang mungkin sudah mempunyai materi pelajaran bahasa Inggris yang sudah visible, bahkan sudah melakukan survey psikologis kognitif terhadap daya nalar murid muridnya dan hasil surveynya digunakan untuk menyusun materi kurikulum, tetapi sejauh yang kita ketahui pemberian materi pelajaran bahasa Inggris ini masih asal ada asal jalan asal bisa jualan buku cetak saja.

Ada beberapa alasan yang melatar belakangi program ini harus terus dilanjutkan. Alasan yang pertama ialah bahasa Inggris adalah suatu bahasa yang sangat penting dalam dunia internasional khususnya di era globalisasi sekarang ini. Bahasa Inggris dipergunakan sebagai media komunikasi dengan orang lain dari berbagai negara. Menurut pendapat Crystal (2003) bahwa bahasa Inggris tersebar dan dipergunakan hampir seperempat penduduk dunia dan terus akan berkembang menjadi satu setengah trilyun pada awal tahun 2000 an ini. Alasan kedua ialah dengan menguasai bahasa Inggris maka orang akan dengan mudah masuk dan dapat mengakses dunia informasi dan teknologi. Dengan pengenalan bahasa Inggris di sekolah dasar maka siswa akan mengenal dan mengetahui bahasa tersebut lebih awal. Oleh karena itu mereka akan mempunyai pengetahuan dasar yang lebih baik sebelum melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Menurut pedoman garis besar pendidikan dasar di Indonesia, tujuan pendidikan dasar di Indonesia ialah mempersiapkan lebih awal siswa pengetahuan dasar sebelum melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Website Departemen Pendidikan Nasional, 2004). Alasan yang terakhir adalah bagi orang tua dan guru dapat memberikan bekal bagi siswa bahwa dengan menguasai bahasa Inggris maka bisa memberikan kesempatan yang lebih terbuka untuk mengembangkan diri guna memperoleh kesempatan yang lebih baik menghadapi persaingan lapangan kerja dan karir di masa yang akan datang. Oleh karena mngutip pendapat Pennycook (1995:40) bahwa bahasa Inggris telah menjadi suatu alat yang sangat menentukan bagi kelanjutan pendidikan, pekerjaan serta status sosial masyarakat.Akhirnya kesimpulan utama alasan pengajaran bahasa Inggris diadakan di anak terutama di sekolah dasar ialah untuk memberikan pengetahuan penguasaan kosa kata yang banyak sehingga apabila siswa melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi mereka tidak akan mengalami kesulitan . oleh krena itu fokus utama dalam pengajaran bahasa Inggris ini menurut responden ialah penguasaan kosa kata. Dengan menguasai kosa kata yang banyak maka para siswa dapat dengan mudah menguasai keterampilan bahasa yang lain.
B. Metode yang Digunakan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Seorang manusia belajar bahasa dengan pertama adalah mendengarkan dan kemudian mengucapkan. Pengenalan manusia terhadap bahasa ibunya adalah dengan mendengarkan: maaa..em, ma-ma, haaak…haem, demikianlah contoh memberi pelajaran bicara pada anak kita. Demikian juga mengenalkan bahasa apapun kepada orang yang baru pertama mengenal bahasa tersebut. Dengar-bicara-dengar-bicara-dengar bicara terus menerus seperti gelombang laut menciumi pantai dan akhirnya baru membaca dan menuliskannya, bukan dengan dengan memberikan sebuah bentuk-walaupun singkat-conversation dalam buku cetak yang di dalamnya berisi time frame tenses. Untuk merubah ini memang bukan semudah mengucap mantera abkradabramakangularasacuka lalu semua beres. Pekerjaan rumah ini bukan hanya milik pemerintah tetapi terutama adalah kita, para kompasianawan kompasianawati, sebagai orang tua yang sebaiknya cukup arif bijaksana untuk mulai memberikan masukan kepada sekolah tentang materi pelajaran bahasa Inggris yang belum waktunya diberikan kepada anak kelas 1 SD, selektif dalam memantau guru yang mengajar (kalau gurunya saja mengucapkan “the” sebagai “nde” lha muridnya bagaimana?) dan terutama adalah dengan tidak menuntut-terutama anak anak kita yang masih kelas 1,2,3 SD-untuk mahir berbahasa Inggris. Bahasa Inggris memang perlu, tetapi ada fase bagi seorang anak untuk secara serius sungguh sungguh belajar bahasa tersebut dan itu bukan pada fase kelas 1,2 atau 3 dimana mereka masih berhak memiliki dunia bermain yang indah.
Pada tingkat SD atau MI metode pembelajaran bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
  • Memahami instruksi, isi-isi cerita naratif, kalimat, dan berita yang disampaikan melalui media audio-visual.
  • Menyampaikan pertanyaan, instruksi, pesan, ide, dan lain-lain. Dengan susunan kalimat dan pengucapan yang benar.
  • Mempresentasikan ide dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi dengan memahami metode presentasi yang tepat.
  • Memahami bahan bacaan dan istilah-istilah bahasa inggris sesuai dengan bidang studinya dengan menggunakan teknik membaca yang beragam.
  • Menuliskan ide, pendapat, pesan dan cerita dalam kalimat-kalimat yang benar dengan baik.
  • Menilai media visual singkat ke dalam bentuk verbal dan non-verbal (membuat resensi dan film review secara sederhana).
  • Menggunakan kaidah bahasa yang tepat dan terintegrasi dalam aspek bahasa secara keseluruhan.
C. Media yang Digunakan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Berlangsung
Di benak sebagian para anak/murid masih tertanam paradigma lama yang menganggap bahwa kesuksesan belajar Bahasa Inggris adalah karena bakat yang dimiliki. Anggapan ini mendorong para anak/murid enggan belajar Bahasa Inggris. Mereka cenderung bersikap lebih cepat putus asa dan menyerah setiap menemui kesulitan dalam belajar atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Belajar Bahasa Inggris mulanya merupakan kegiatan belajar yang dilakukan di dalam ruangan (indoor learning). Namun sekarang, belajar Bahasa Inggris dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan menggunakan media apa pun. Di samping pelajaran yang diterima di dalam kelas, anak/murid dapat belajar Bahasa Inggris di tempat-tempat kursus dan lembaga pendidikan nonsekolah lainnya.

Fenomena ini tentunya mendorong para guru dan orangtua untuk memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia sebagai media belajar Bahasa Inggris secara menyenangkan. Hal ini tentunya harus dibarengi dengan kesadaran dan motivasi yang tinggi dari siswanya sendiri untuk belajar Bahasa Inggris secara sungguh-sungguh.

1. Berpikir kreatif
Selain memanfaatkan tempat-tempat kursus yang semakin bertebaran, diharapkan para anak/murid dan pihak-pihak yang terkait, seperti orangtua dan guru, mampu berpikir kreatif dengan memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar, terutama bagi para anak/murid yang merupakan subyek pembelajaran. Anak/murid hendaknya dapat bersikap aktif dalam belajar Bahasa Inggris dan tak hanya mengandalkan materi yang diberikan guru di sekolah.

Sebagai contoh, setiap anak/murid pasti mempunyai televisi, radio, dan tape recorder. Lantas terbesit pertanyaan di benak kita, bagaimana barang-barang itu dapat digunakan untuk belajar Bahasa Inggris?
Hampir setiap anak/murid pasti melihat tayangan televisi setiap harinya. Namun hendaknya anak/murid dapat bersikap cerdas dalam memilih tayangan yang akan dilihat. Anak/murid dapat memilih acara dengan sajian bahasa Inggris. Ini bukan berarti kita dilarang melihat acara lain dan bukan berarti juga kita tidak cinta terhadap Bahasa Indonesia. Kemudian bagaimana cara kita belajar dengan melihat televisi? Kita dapat mengasah kemampuan mendengar (listening skill) dengan mendengarkan percakapan yang ada dalam film-film barat (western movie).

Sembari mendengarkan percakapan bahasa Inggris, kita dapat mencatat kata-kata baru yang belum pernah kita dengar ataupun kita mengerti artinya sebelumnya. Secara tidak langsung kita juga dapat menambah perbendaharaan kata-kata baru (new vocabularies).

2. Bermain Sambil Belajar
Lingkungan juga menyediakan sarana untuk belajar bahasa Inggris bagi anak-anak. Karakteristik utama anak-anak adalah bermain sambil belajar. Para orangtua dan guru dapat mengajak putra putri dan siswanya untuk mengunjungi taman kota, kebun binatang, dan bahkan mengajak mereka untuk sekadar duduk- duduk di taman rumah. Para orangtua dan guru mengenalkan secara langsung benda-benda yang ada di sekitar dengan menggunakan bahasa Inggris.

Sebagian orangtua mungkin merasa khawatir karena melatih putra putri mereka untuk belajar berbagai macam bahasa secara bersamaan. Pada dasarnya anak-anak tidak akan merasa terbebani dengan berbagai macam bahasa yang diajarkan kepada mereka. Secara alamiah anak-anak mempunyai alat untuk belajar bahasa secara bersamaan yang disebut sebagai language acquisition device (LAD) yang merupakan anugerah Tuhan. Justru sebaliknya, pembelajaran berbagai macam bahasa dalam waktu yang bersamaan sedini mungkin adalah langkah yang efektif. Selain LAD yang dimiliki anak-anak adalah faktor usia juga sangat mendukung. Pada usia dini, daya tangkap anak-anak terhadap materi yang diberikan akan lebih baik. Dengan demikian, banyak cara yang dapat digunakan untuk belajar bahasa Inggris secara menyenangkan. Dengan adanya sikap cerdas dan pikiran yang kreatif, siswa diharapkan dapat termotivasi untuk lebih tekun belajar Bahasa Inggris dan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kesuksesan dalam belajar bahasa Inggris bukan karena bakat (talent), tetapi karena kemauan.
BAB III
KESIMPULAN

Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.

Ada beberapa alasan yang melatar belakangi program ini harus terus dilanjutkan. Alasan yang pertama ialah bahasa Inggris adalah suatu bahasa yang sangat penting dalam dunia internasional khususnya di era globalisasi sekarang ini. Bahasa Inggris dipergunakan sebagai media komunikasi dengan orang lain dari berbagai negara.
  • Pada tingkat SD atau MI metode pembelajaran bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
    Memahami instruksi, isi-isi cerita naratif, kalimat, dan berita yang disampaikan melalui media audio-visual.
  • Menyampaikan pertanyaan, instruksi, pesan, ide, dan lain-lain. Dengan susunan kalimat dan pengucapan yang benar.
  • Mempresentasikan ide dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi dengan memahami metode presentasi yang tepat.
  • Memahami bahan bacaan dan istilah-istilah bahasa inggris sesuai dengan bidang studinya dengan menggunakan teknik membaca yang beragam.
  • Menuliskan ide, pendapat, pesan dan cerita dalam kalimat-kalimat yang benar dengan baik.
  • Menilai media visual singkat ke dalam bentuk verbal dan non-verbal (membuat resensi dan film review secara sederhana). Menggunakan kaidah bahasa yang tepat dan terintegrasi dalam aspek bahasa secara keseluruhan.

Rabu, 17 Februari 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar ini kita akan mengkaji pengertian disiplin kelas, mengapa disiplin kelas itu penting, serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi disiplin kelas. Kita diharapkan terlibat aktif dalam pembahasan, baik dalam mengkaji ilustrasi, mencari contoh, maupun membandingkan contoh dan ilustrasi. Dengan cara ini kita akan mampu menjelaskan pengertian disiplin dan disiplin kelas secara mantap, menjelaskan pentingnya disiplin kelas, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kelas.

B. Kajian Materi
Apa yang dimaksud dengan disiplin dan disiplin kelas.


BAB II
DISIPLIN KELAS


A. Disiplin
Disiplin adalah ketaatan terhadap aturan. Berkaitan dengan disiplin, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Apa artinya itu? Pemerintah berupaya meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap aturan yang ada dalam segala bidang. Disiplin dalam berlalu lintas, menunggu giliran, membayar pajak, membuang sampah, bekerja, dan sebagainya.

B. Disiplin Kelas
Pengertian disiplin kelas telah banyak diungkapkan oleh para pakar. Turney dan Cairs (1980) mengkaji ulang definisi disiplin kelas yang berasal dari para pakar. Dalam kajian tersebut antara lain diungkapkan definisi disiplin yang bervariasi sebagai berikut.
Pertama, disiplin diartikan tingkat keteraturan yang terdapat pada satu kelompok. Berkaitan dengan definisi ini, kita dapat mengatakan bahwa ilstrasi pertama di atas menggambarkan disiplin kelas yang tinggi, sedangkan ilustrasi yang kedua menggambarkan disiplin kelas yang rendah.
Kedua, disiplin kelas diartikan sebagai teknik yang digunakan oleh guru untuk membangun atau memelihara keteraturan di dalam kelas. Ketiga, ada pakar yang menyamakan kata disiplin dengan hukuman.
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimak bahwa disiplin kelas dilandasi oleh adanya hubungan guru-siswa dalam kelas. Hal ini juga tercermin dalam pengertian disiplin yang disepakati oleh beberapa pakar, yang mendefinisikan disiplin sebagai bagian pengelolaan kelas yang terutama berurusan dengan penanganan perilaku yang menyimpang (Kohn, 1996).
Agar kita mempunyai pemahaman yang sama terhadap istilah disiplin kelas, maka dalam uraian selanjutnya disiplin kelas kita artikan sebagai tingkat keteraturan, yang terjadi di dalam kelas, atau tingkat ketaatan siswa terhadap aturan kelas.

C. Mengapa Disiplin Kelas Itu Perlu
Mengapa kita perlu mengajarkan, menanamkan, atau meningkatkan disiplin kelas? Mengapa kita tidak hanya mengajar saja dan tidak usah peduli pada disiplin? Untuk menjawab semua ini, kita dapat mengingat-ingat kembali situasi kelas ketika pelajaran sedang berlangsung. Dalam situasi yang bagaimana pelajaran menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi siswa? Dan dalam situasi yang bagaimana pula Anda merasa pelajaran itu sangan membosankan, sehingga membuat Anda ingin cepat-cepat mengakhirinya.
Disiplin perlu diajarkan dan perlu dipelajari serta dihayati oleh siswa, agar siswa mampu mendisiplinkan diri sendiri. Inilah yang merupakan tujuan utama penanaman disiplin. Siswa mampu mengendalikan diri sendiri, tanpa perlu dikontrol oleh guru (Winzer, 1992).
Disiplin, sebagaimana diakui oleh para pakar sejak dahulu, merupakan tidak pusat berputarnya kehidupan sekolah (Turney & Cairns, 1980). Keberhasilan dan kegagalan sekolah tergantung dari tingkat ketercapaian dalam menerapkan disiplin yang sempurna.
Tingkat ketaatan siswa yang tinggi terhadap aturan kelas, lebih-lebih jika ketaatan tersebut tumbuh dari diri sendiri, bukan dipaksakan, akan memungkinkan terciptanya iklim belajar yang kondusif, yaitu iklim belajar yang menyenangkan sehingga siswa terpacu untuk belajar.
Sebaliknya, tingkat ketaatan yang rendah terhadap aturan kelas akan membuat iklim belajar yang tidak kondusif, tidak menyenangkan. Guru akan lebih banyak berurusan dengan perilaku siswa yang menyimpang, sehingga pelajaran terbengkalai.
Jumlah siswa dalam satu kelas, lebih-lebih di negeri kita cukup banyak. Di kota-kota besar satu kelas bisa terdiri dari 40 – 50 orang siswa. Kelas yang besar ini, jika tidak diikat oleh aturan yang ditaati bersama akan dapat menimbulkan kekacauan.
Kebiasaan untuk menaati aturan dalam kelas akan memberi dampak lebih lanjut bagi kehidupan siswa di dalam masyarakat. Siswa yang terbiasa menaati aturan di dalam kelas, akan terdorong pula menaati aturan yang ada dalam masyarakat.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kelas
Faktor Fisik
Karena disiplin kelas dilandasi oleh adanya interaksi guru-siswa dalam konteks (hubungan) kelas, maka faktor fisik yang mempengaruhi disiplin kelas juga mencakup guru, siswa dan ruang kelas.

Faktor Sosial
Hubungan antara guru-siswa dan tentunya siswa dengan siswa terjadi dalam kelas. Kualitas interaksi sosial ini, yaitu kualitas hubungan guru-siswa-siswa juga dapat mempengaruhi disiplin kelas. Hubungan yang akrab dan sehat, saling mempercayai akan mampu meningkatkan disiplin kelas.

Faktor Psikologis
Faktor fsikologis atau kejiwaan juga dianggap sangat berpengaruh pada tingkat kedisiplinan siswa. Faktor fsikologis mencakup antara lain perasaan (sedih, senang, marah, bosan, benci, dan sebagainya), kebutuhan seperti keinginan untuk dihargai, diakui, disayangi serta kecerdasan.


Selasa, 09 Februari 2010

NARKOBA

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa didaerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua, ormas, pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu meraja rela. Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba.
1.2. Apa itu Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari 'Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif'.
Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioparasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalah gunakan akibat pemakaian yang telah diluar batas dosis.
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari 'Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif'.Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioparasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalah gunakan akibat pemakaian yang telah diluar batas dosis.
II. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian dan Dampak dari Narkoba
2.1.1. Narkotika
Narkotika ialah suatu obat yang merusak pikiran menghilangkan rasa sakit, menolong untuk dapat tidur dan dapat menimbulkan kecanduan dalam berbagai tingkat. Narkotika merupakan salah satu obat yang dibutuhkan kesehatan untuk pengobatan suatu penyakit, tetapi kadang menyebabkan efek samping misalnya kecanduan, kerusakan organ tubuh, bahkan kematian. Menurut Farmakologi, narkoba termasuk zat atau obat yang bekerja disusunan saraf.
Adapun jenis-jenis narkotika adalah sebagai berikut :
1. Ganja
Di masyarakat ganja sering dikenal dengan kata Cimeng, Hashish, Marijuana, Marihuana, Grass, Rumput. Ganja yang dikonsumsi dapat berbentuk minyak (cannabis), balok (hanshis), atau hasil pengeringan (marijuana), dan juga dapat dikonsumsi dengan cara dimakan seperti campuran ke dalam masakan atau di hisap bersama tembakau sebagai asap rokok. Ganja yang dikonsumsi diperoleh dari tanaman Canabis Sativa atau Cannabis Indica dan hidupnya di daerah tropis dan beriklim sedang serta ganja mengandung Terahydrocannabinoc (THC), gejala dari pemakai ganja tersebut akan perasaan gembira, peningkatan rasa percaya diri, perasaan santai dan merasa sejahtera.
Efek psikologis pada pemakaian ganja yang kronis akan mengakibatkan:
  • Sindrom amotivasional
  • Pengguna jadi tidak memikirkan masa depan
  • Kehilangan semangat untuk bersaing
  • Kemampuan baca, menghitung dan berbicara jadi berkurang
  • Perkembangan kemampuan dan keterampilan sosialnya terhambat
  • Tidak bereaksi jika dipanggil
  • Percaya pada hal-hal yang berbau mistik
Efek Ganja :
  • Mabuk
  • Mata merah
  • Midriasis
  • Ganggunan fungsi paru-paru, jantung, otak, sumsu tulang, organ reproduksi
1. Opioda
Segolongan adalah segolongan zat, baik yang alamiah, semi sintetik, sintetik khasiat pengobatan sebagai analgetik. Opioda terbagi dalam 3 golongan:
- Opioda Alamiah Contohnya : Opium, Morfin, Kokain, tebain
- Opioda Semisintetik Contohnya: Heroin dan Hirommorfon
- Opioda Sintetik Contohnya : Meperidin, Profoksifen, Levervonal, Levaloffan.

Selasa, 29 September 2009

BAB I
PENDAHULUAN

Istilah pemimpin adalah terjemahan leader/head/manager, yang juga disebut manajer/kepala/direktu/presiden dan lain sebagainya. Tegasnya setiap orang mempunyai bawahan pemaikaian istilah ini tergantung kepada kebiasaan atau kesenangan setiap organisasi, jika tidak perlu diperdebatkan. Seorang pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan menggambarkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya.
Leader adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat kepemimpinan dan berwibawa atau pengikutnya karena kecakapan dan kemampuannya serta didukung oleh perilaku yang baik. Leader ini biasanya dapat memimpin organisasi formal dan informal, karena disegani, berwibawa dan menjadi anutan bagi bawahan pengikutnya, biasanya tipe kepemimpinan adalah untuk bawahan.
Head (kepala) adalah seorang pemimpin, yang dalam praktek kepemimpinannya hanya berdasarkan kekuasaannya. Head biasanya hanya dapat memimpin organisasi formal saja, dan tipe kepemimpinannya ialah falsafahnya, bawahannya adalah untuk pemimpin.Sedangkan redaksi adalah suatu pengembangan dan pengelolaan berbagai informasi untuk menyelenggarakan dan melaksanaka kegiatan dan tugas-tugas yang akan dilakukan dan dicapai dengan baik. Maka pemimpin redaksi adalah aktivitas yang menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Pemimpin redaksi banyak memperhatikan masalah visi, strategi dan menekankan suatu ketegasan dan keberanian. Pemimpin redaksi ada dua macam yaitu pimpinan redaksi tunggal dan pimpinan redaksi kolektif.
  1. Pimpinan redaksi tunggal yaitu seorang pimpinan yang mempunyai Authority untuk mengambil keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam organisasi, jadi sumber perintah dan laporan penanggung jawaban hanya dilakukan kepada pimpinan tunggal saja.
  2. Pimpinan redaksi kolektif yaitu pimpinan yang terdiri dari beberapa orang yang mempunyai bakat yang sama. Biasanya untuk mengambil keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam organisasi, jadi keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dari pimpinan kolektif tersebut.
Oleh karena itu, efektivitas pemimpin redaksi sebagian besar ditentukan oleh efektivitas kepemimpinan seorang pemimpin. Pemimpin redaksi harus mengutamakan tugas, tanggung jawab dan membina hubungan yang harmonis, baik dengan atasannya maupun dengan para bawahannya. Jadi pemimpin redaksi harus mengadakan komunikasi ke atas dan ke bawah, baik komunikasi formal maupun komunikasi informal.
Karena tugas dan wewenang yang begitu besar dari seorang pemimpin, mereka yang berada pada posisi ini selalu dibantu oleh seorang pemimpin redaksi dan seorang pemimpin perusahaan. Hal tersebut berlaku pada inti yang sama yang menerapkan sistim manajemen yang nampak berbeda. Jadi manajemen yaitu tindakan yang dilakukan untuk membuat sumber daya yang ada dapat berfungsi secara maksimal untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan tersebut meliputi perncanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (acting), dan pengawasan (Controling).Sedangkan manajemen demokrasi adalah pemaksimalan fungsi dari sumber daya yang ada, tak ada patokan yang harus dilakukan, semua harus dirancang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan karakteristik sumber daya yang ada.
Pada dasarnya kemampuan manusia itu terbatas (fisik, pengetahuan, waktu dan perhatian). Sedangkan kebutuhannya tidak terbatas. Usaha untuk memenuhi kebutuhan dan terbatasnya kemampuan dalam melakukan pekerjaan mendorong manusia membagi pekerjaan, tugas dan tanggung jawab. Dengan adanya pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab ini maka terbentuklah kerjasama dan keterikatan formal dalam suatu organisasi. Dalam organisasi ini maka pekerjaan yang berat dan sulit akan dapat diselesaikan dengan baik serta tujuan yang diinginkan akan tercapai.
Manajemen demokrasi itu sangat penting, yaitu :
  1. Pekerjaan itu berat dan sulit untuk dikerjakan sendiri, sehingga diperlukan pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab dalam penyelesaiannya.
  2. Perusahaan akan dapat berhasil baik, jika manajemen demokrasi diterapkan dengan baik.
  3. Manajemen demokratis yang baik akan meningkatkan daya guna dan hasil guna semua potensi yang dimiliki.
  4. Manajemen demokratis mengakibatkan pencapaian tujuan secara teratur.
  5. Manajemen demokratis merupakan suatu pedoman pikiran dan tindakan.

Manajemen demokratis sangat penting untuk mengatur semua kegiatan dalam rumah tangga, sekolah, koperasi, yayasan-yaysan pemerintah dan lain sebagainya. Walaupun manajemen dan organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja, tetapi harus diatur dengan sebaik-baiknya. Karena jika manajemen dan organisasi ini baik maka tujuan optimal dapat diwujudkan, pemborosan terhindari, dan semua potensi yang dimiliki akan lebih bermanfaat.
Prinsip-prinsip demokrasi ini merupakan refleksi dari nilai-nilai dasar yang terkandung dalam manajemen sebagai pemimpin yaitu :

  1. Hak-hak dasar
  2. Kebebasa mengeluarkan pendapat
  3. Adanya tujuan yang ingin dicapai
  4. Adanya sekelompok manusia.

Adanya pimpinan yang mempengaruhi dan mengendalikan.Manajemen pada dasarnya sudah ada sejak adanya pembagian kerja, tugas, tanggung jawab dan kerjasama formal dari sekelompok orang untuk mencapai tujuan, bahkan manajemen sudah ada sejak adanya pemimpin/ pengatur dan ada bawahan yang diatur untuk mencapai tujuan bersama, walaupun masalahnya masih sangat sederhana, yaitu seperti pemimpin redaksi yang tergabung dalam ilmu sosiologi, hukum, filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya.

Maka pemimpin redaksi bertugas sebagai berikut :

  1. Bertanggung jawab dalam menjalankan organisasi keredaksian.
  2. Membawahi semua unit divisi redaksi
  3. Melakukan pengawasan dan pembinaan pada unit kerja dibawahnya.
  4. Bertanggung jawab pada pimpinan umum.

Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya, yang terpenting adalah bertanggung jawab pada pihak umum. Pemimpin redaksi juga mempunyai tugas bagi redaktur pelaksana. Adapun tugas redaktur pelaksana adalah :

  • Bertanggung jawab atas kegiatan operasional redaksi sehari-hari
  • Menjabarkan dan mengawasi pelaksanaan konsep media yang telah digariskan dalam perencanaan peliputan, penulisan hingga penyajiannya.
  • Menyelenggarakan rapat evaluasi diantara beberapa unit manajerial yang dibawahinya.
  • Pada kondisi tertentu, tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.
  • Melakukan pengawasan dan pembinaan pada unit kerja dibawahnya.

Oleh karena itu, inilah tugas bagi para redaktur pelaksana, yang harus mampu terdorong orang-orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. Pemimpin harus menjadi sumber kegiatan dan penanggung jawab hasil yang dicapai dalam aktivitas proses manajemen tersebut. Dengan pemimpin yang inovatif, kreatif, cakap dan berani mengambil keputusan maka aktivitas-aktivitas organisasi yang dipimpinnya semakin dinamis.
Pemimpin redaksi juga termasuk seorang manajer, jadi jika seandainya aku menjadi seorang pemimpin dan redaksi surat kabar yang bertanggung jawab dalam segala bidang. Karena seorang manajer merupakan sumber aktivitas dan harus merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengendalikan semua kegiatan agar tujuan tercapai.
Tugas-tugas manajer pada semua tingkatan itu sama dalam proses manajemen, yakni membenahi semua fungsi manajemen dengan baik, supaya tujuan berjalan dengan lancar.Maka yang mengatur tugas-tugas tersebut adalah pemimpin dengan wewenang kepemimpinannya melalui instruksi sehingga semua proses manajemen tertentu serta terarah, cara mengaturnya yaitu melalui proses dari urutan fungsi-fungsi manajemen, dalam suatu organisasi atau perusahaan, maka hal tersebut merupakan suatu ilmu dan seri dalam mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya yang secara efektif.

BAB II
PENUTUP

Kesimpulan

  1. Persediaan faktor-faktor yang semakin meningkat maka timbullah perbaikan-perbaikan sosial dalam suatu penekanan tugas terhadap staf manajemen dan pemimpin.
  2. Kepentingan yang akan dicapai dalam sekelompok orang tercantum dalam ikatan dan tata tertib yang baik.

Saran

  1. Pertanggung jawaban dan pembagian kerja atau tugas masing-masing sangat berkurang dan belum teratur.
  2. Pelaksanaan penyampaian berbagai informasi masih dalam keadaan proses yang belum jelas.

Rabu, 26 Agustus 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bagi masyarakat awam, barangkali istilah molahidatidosa masih terasa asing di telinga. Jika boleh menebak, kemungkinan tidak ada yang dapat mengklasifikasikan dengan benar, apakah molahidatidosa ini termasuk dalam kategori zoologi, fisika, kimia atau astronomi. Karena sesungguhnya, istilah mola ini tidak termasuk dalam kategori tersebut, tetapi tidak lain merupakan istilah kedokteran, tepatnya menyangkut masalah tentang kehamilan yang abnormal.
Apabila dilihat dari frekuensi mola yang umumnya pada wanita di Asia lebih tinggi yakni 1 dari 80 – 120 kehamilan daripada wanita di benua Eropa 1 dari 1.500 – 2.000 kehamilan. (Sumber : http://cakmokia86.wordpress.com). Tentang nasibnya kehamilan tidak normal ini dapat dikatakan, bahwa mola keluar sendiri atau dikeluarkan dengan suatu tindakan, pengeluaran sendiri biasanya disertai dengan perdarahan banyak.
Dari penjelasan inilah maka penyusun akan mencoba mengangkat suatu makalah dengan judul Molahidatidosa.

1.2. Perumusan Masalah
Dalam mengidentifikasi berbagai aspek kehidupan perkembangan dan masalah kesehatan, maka penyusun akan membahas sedikit tentang molahidatidosa tersebut.

1.3. Tujuan
A. Tujuan Umum
Sesuai dengan permasalahan yang telah ditemukan di atas, maka kami bertujuan untuk mengetahui asuhan praktek klinik pada ibu INC dengan masalah molahidatidosa dengan tindakan pemenuhan kebutuhan ibu INC.


B. Tujuan Khusus
Sebagai salah satu dari praktek kebidanan agar pembaca dapat memahami mengenai pengertian dan tujuan dari masalah molahidatidosa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar dari Molahidatidosa
A. Pengertian
Hamil anggur atau molahidatidosa adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang terjadi sebagai akibat kegagalan pembentukan “Bakal Janin” sehingga terbentuk jaringan permukaan membran (vili) mirip gerombolan buah anggur. Tumor jinak mirip anggur tersebut asalnya dari tofoblas yakni sel bagian tepi ovum atau sel telur yang telah dibuahi yang nantinya melekat di dinding rahim dan menjadi plasenta (tembuni) serta membran yang memberi makan hasil pembuahan. (Sumber http://kakmokia 86 words press.com)

B. Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, tetapi diduga pencetusnya antara lain kekurangan gizi dan peredaran darah rahim.

C. Patofisiologi
Hamil anggur atau molahidatidosa dapat terjadi karena :
1. Tidak adanya buah kehamilan (agnesis) atau adanya perubahan (degenerasi) sistem aliran darah terhadap buah kehamilan, pada usia kehamilan minggu ke – 3 sampai minggu ke – 4.
2. Aliran (sirkulasi) darah yang terus berlangsung tanpa bakal janin, akibatnya terjadi peningkatan produksi cairan sel trofoblart (bagian tepi sel telur yang telah dibuahi)
3. Kelainan substansi kromosom (kromatin) seks.

D. Tanda dan Gejala
Layaknya orang hamil, tanda awal persis kehamilan biasa, misalnya terlambat haid, keluhan mual dan muntah. Hanya saja keluhan tersebut lebih hebat. Jika diperiksa tes kehamilan hasilnya positif juga. Tapi bukan berarti jika muntah-muntah hebat sampai lemas lantas tergopoh-gopoh takut bahwa itu hamil anggur masih ada tanda lain dan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosa.
Selain gejala umum di atas, tanda-tanda lain diantaranya :
1. Tidak ada tanda-tanda gerakan janin
2. Rahim nampak lebih besar dari umur kehamilan, misalnya terlambat dua bulan, rahim nampak seperti 4 bulan.
3. Keluar gelembung cairan mirip buah anggur bersamaan dengan perdarahan.

E. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan radiologis atau rontgen, tidak terlihat gambaran tulang janin, yang nampak justru gambaran mirip sarang lebah (honey comb) atau gambaran mirip badai salju (hitrasonografi), ditemukan gambaran mirip badai salju, tidak adanya gambaran yang menunjukkan denyut jantung janin.
Pemeriksaan lain adalah dengan patologi anatomi, yakni pemeriksaan mikroskopis. Gelembung cairan mirip anggur. Pemeriksaan penting lainnya, pengukuran kadar hormon korionik gonadotropik (HCG), yaitu hormon untuk mengidentifikasikan kehamilan pada hamil anggur kadar hormon ini (HCG) Meningkat lebih tinggi dari kadar kehamilan normal

F. Pengobatan
Pada dasarnya mola (hamil anggur) adalah tumor jinak, namun dapat berkembang menjadi ganas, kemungkinan menjadi ganas sekitar 20 %.

G. Prinsip Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan dari mola adalah :
1) Pengeluaran mola (evaluasi) pada wanita subur dan masih menginginkan anak, dapat dilakukan kuret atau kuret hisap. Kuret ulangan dilakukan sekitar seminggu setelah pertama, untuk memastikan bahwa rahim benar-benar bersih, sedangkan bagi wanita usia lanjut atau yang sudah tidak menginginkan tambahan anak, dilakukan pengangkatan rahim. (histerektomi)
2) Follow up, yaitu pengawasan lanjutan untuk konitor dan evaluasi pasca evaluasi langkah pengawasan dilakukan secara klinis, laboratorium dan radiologis pengawasan lanjutan dengan pemeriksaan kadar HCG pemeriksaan ini dilakukan 1 minggu sekali sampai kadar HCG menjadi negatif, setelah itu masih diperiksa sampai tiga minggu berturut-turut kadar HGC tetap negatif.
Selanjutnya masih diperiksa setidaknya sebulan sekali selama 6 bulan, jika ternyata pemeriksa HCG tidak sesuai dengan harapan atau dengan kata lain kadarnya tetap atau malah naik, perlu diberikan obat kemoterapi. Cara pengawasan lain dengan pemeriksaan radiologis yang dilakukan 6 bulan sekali.
Pada dasarnya penderita mola (hamil anggur) dianjurkan tidak hamil sampai pengawasan lengkap selesai dilakukan bagi yang belum punya anak, dianjurkan memakai alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan selama satu tahun dan bagi yang sudah punya anak dianjurkan tidak hamil selama 2 tahun.